Konsorsium PTAIN Bahasa Eksistensi Ekonomi Syariah

LENSAINDONESIA.COM: Konsorsium Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) membahas eksistensi ekonomi syariah.Pembahasan tersebut, menurut Dekan Fakultas Ekonomi Syariah Uin Maliki Malang, DR Muhtadi Ridwan untuk menyamakan visi terkait dengan perekonomian Islam.“Konsorsium Ekonomi Syariah dari berbagai PTAIN di Indonesia ini memang merasa perlu membahas soal eksistensi ekonomi Islam. Sebab, pelaku bisnis selama ini masih menganggap ekonomi Islam itu merupakan model baru,” jelas Muhtadi Ridwan, Selasa (22/01/2013).

selengkapnya

PENDIDIKAN AGAMA LANDASAN UTAMA

Berasal dari keluarga besar membuat Muhtadi ingin memiliki keluarga yang besar juga. Dari pernikahannya dengan Dra. Hj. Jamilah, Muhtadi dikaruniai lima anak, tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan.
Dalam mendidik anak, Muhtadi mengaku pendidikan agama sebagai landasan utama. Namun ia tidak pernah memaksa anaknya untuk menempuh pendidikan di pesantren seperti yang pernah dilakukannya saat masih muda dulu. Menariknya, justru karena dibebaskan memilih sekolah, anak-anaknya justru memilih untuk melanjutkan pendidikan di pesantren begitu lulus dari SD.

selengkapnya

YAKIN, JABATANNYA KARENA BERKAH ANAK YATIM

Bagi Muhtadi Ridawn banyak manfaat yang dia dapat selama bertahun-tahun ngeramut anak yatim.  Menurutnya, beberapa manfaat diantaranya adalah meningkatnya kesadaran rasa simpati dan empati terhadap sesama, tambah saudara, dan juga kemudahan untuk banyak urusan. Dalam pandangan Muhtadi, dengan mengurusi anak yatim, dirinya menjadi sadar dan lebih bersyukur bahwa nikmat yang dia dapat selama ini sudah sangat banyak. “Untuk itu, kami selalu memberi motivasi kepada siapa saja termasuk warga kampung dekat yayasan; kalau kita peduli kepada anak yatim insyaallah kita akan dikasihi Allah SWT, itu janji Allah pada kita”, ucap pria dari pasangan Hj. Masning dan HM. Ridwan.

selengkapnya

UPAYA ANAK YATIM BISA SEKOLAH

Sebagaimana seorang bapak, Muhtadi menganggap anak yatim sebagai anaknya sendiri. Menurut dia, anak yatim itu sebagaimana layaknya anak-anak lainnya, yang membutuhkan seorang bapak atau ibu yang selalu memperhatikannya. “Contohnya, ketika mengetahui saya ke tempat tinggal mereka di asrama yayasan, mereka mendekat. Mereka secara bergantian, ada yang menyampaikan dan/atau menanyakan beberapa hal secara bergantian. Ada yang menyampaikan apa yang dilakukan, tentang sekolah, tentang nilai, tentang temannya yang nakal, dll. Ada juga yang menanyakan perihal pelajaran, dan banyak hal. Kalau sudah begitu, saya mencoba memperhatikan dan mendengar secara seksama, kemudian mencoba untuk merespon dengan menjawab dan menjelaskan beberapa pertanyaan dan informasi mereka”, katanya ketika ditemui Radar di kantornya Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kemarin.

selengkapnya

DIPERCAYA TETANGGA DIRIKAN YAYASAN

Selain berkutat di kampus, Muhtadi juga disibukkan dengan kegiatan di yayasan. Saat ini ia dipercaya menjadi ketua yayasan anak yatim At-Taufiq yang berlokasi di tempat tinggalnya, Sanan Malang.
Ada cerita menarik di balik pendirian yayasan yang diketuainya itu. Di tahun 1995, di kampungnya ada perayaan HUT RI. Saat itu, ia merupakan warga baru di kampung tersebut. Oleh ketua RT, ia diundang mengikuti rapat untuk menentukan acara apa yang digelar untuk merayakan HUT RI. Lantas ia menyarankan disamping acara lomba, karaoke dll perlu juga diadakan pengajian memanfaatkan tradisi syukuran yang sudah sejak lama dilakukan.

selengkapnya

KULIAH NYAMBI LOPER KORAN

Muhtadi lahir dari keluarga besar dengan anak berjumlah 11. Ia sendiri merupakan anak kesepuluh. Ayahnya seorang kepala desa (1948-1983) di Glagah, Kabupaten Lamongan sedangkan ibunya ibu rumah tangga.
Sejak remaja, Muhtadi sudah terbiasa hidup berjauhan dengan ayah dan ibunya. Tepatnya setelah lulus SD dan Madrasah Ibtidaiyah, ia memilih nyantri di PP Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. Ia menuntut ilmu di pesantren tersebut hingga lulus Madrasah Tsanawiyah.

selengkapnya

TURUN “PANGKAT” TETAP “FLAMBOYAN”

Jika ada seorang yang “turun” pangkat, lalu berpenampilan biasa-biasa, mungkin HA. Muhtadi Ridwan, adalah orangnya. Lho kok ? Ia, Abah, panggilan akrabnya adalah mantan Pembantu Rektor III UIN Malang (1997-2004). Jabatannya sebagai pembantu rektor bidang kemahasiswaan mengharuskan untuk bisa membagi waktu secara ketat. Maklum, posisi itu memang sangat menyita waktu dan pikirannya. “Lha mengasuh mahasiswa ribuan orang kan tidak gampang”, katanya suatu ketika.

selengkapnya

DEKAN FE YANG TAK PERNAH SEKOLAH EKONOMI

Selama dua periode, yaitu sejak tahun 2004 hingga sekarang Muhtadi dipercaya memimpin Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Padahal ia tidak pernah sekalipun menempuh pendidikan ekonomi. Saat ditunjuk menjadi dekan FE, ia hanya memegang gelar S-1 dari Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan gelar master yang diambil dari Program Magister Agama. Walaupun tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi, Muhtadi terlihat sangat konsen pada wacana ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan karya skripsinya ketika menyelesaikan Program Doktoral/Sarjana Lengkap yang mengambil tema ”al-Qur’an dan Sistem Perekonomian” (1985). Ketika menyelesaikan Program Magister, tema penelitiannya tentang ”Manajemen Pengelolaan Dana ZIS; Studi Kasus di Lagzis Kota Malang”. Kemudian penelitian disertasinya bertema ”Pemahaman Agama dan Prilaku Ekonomi Komunitas Perajin Tempe Sanan Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing Malang”

selengkapnya

DJP BUTUH 3 RIBU KARYAWAN

GEMA-Peresmian Tax Center UIN Maliki dengan menghadirkan para pimpinan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Pusat Jakarta membuat kegiatan yang berlangsung selama satu hari itu betul-betul membawa berkah bagi sivitas akademika UIN Maliki (29/11).

selengkapnya

“Laboratorium FE UIN Luar Biasa”

Bulan hajatan, cukup pas diberikan pada  Fakultas Ekonomi.  Rentetan kegiatan penting memadati aktifitas civitasnya. Bagi dosen, karyawan, dan mahasiswa.
Kuliah tamu, diklat bagi dosen-staf-karyawan, akreditasi Prodi Diploma Tiga (III) Perbankan, akreditasi  Jurusan Manajemen dan Akuntansi, “menikahkan”  Ditjen Pajak Pusat-UIN Maliki dengan membentuk Laboratorium Tax Center,  berbagai aktifitas Jurusan (HMJ) – kuliah tamu-seminar nasional bagi mahasiswa, dan  Job fair-job seeker yang bakal digelar nanti (8-15/12).  Menjadi sederet alasan  disebut  bulan hajatan  bagi FE.

selengkapnya