URGENSI PENELITIAN SANAD DAN MATAN HADIS

Pendahuluan
 Hadis  sebagai ucapan, perbuatan, takrir dan hal-ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran.[1]  Hadis (sunnah) Nabi saw.  selanjutnya berfungsi sebagai  uswah (tauladan) bagi  setiap muslim.[2]

Memposisikan  hadis secara struktural dan fungsional sebagai sumber ajaran setalah al-Quran, atau sebgai bayaan (penjelas) terhadap al-Quran merupakan suatu keniscayaan.  Nabi Muhammd saw. dalam kapasitas sebagai Nabi dan Rasul, tidak seperti tukang pos dan bukan pula sebagai medium al-Quran, tetapi beliau adalah mediator,[3]mufassir awal al-Quran.

selengkapnya

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)Mata Kuliah Studi Hadis(3 sks Semester III) Program Studi PAI Program Magister Program PascasarjanaUIN Maliki Malang
A. DESKRIPSI DAN KOMPETENSI
Mata Kuliah Studi Hadis ini dimaksudkan untuk memberi wawasan, pemahaman dan keterampilan kepada mahasiswa tentang posisi penting Hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum kedua dalam Islam, melalui upaya pemahaman dan penguasaan terhadap aspek-aspek yang mencakup pandangan hadis perspektif Sunni-Syi’ah, hadis dan kesarjanaan Muslim modern, hadis dan kesarjanaan non-Muslim, kritik hadis, berbagai pendekatan pemahaman hadis, takhrij al-hadits secara tekstual (hadith in text) serta penelitian hadits secara kontekstual (hadith in context), melalui hadits yang dipahami, dikonstruksi dan dipraktikkan dalam masyarakakat dengan metode Living Sunnah, yang difokuskan kepada hadis-hadis yang berkenaan dengan Pendidikan Islam.

selengkapnya

Quo Vadis Studi Hadis ?

Pengantar
Tidak dapat diragukan lagi bahwa hadis mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kajian Islam. Sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, hadis menjadi rujukan dari berbagai problem sosial keagamaan yang dihadapi oleh umat muslim karena hadis tidak hanya sebagai bayan dan tafsir dari al-Qur’an tetapi juga mencakup semua kegiatan hidup Nabi Saw yang umum dan luas meliputi semua informasi, bahkan pesan, kesan dan sifat yang semuanya bersumber dari Nabi.

selengkapnya

KAJI ULANG ATAS MUTU KEHUJJAHAN HADIS DALAM HAZANAH KEILMUAN SYARI’AH

Adalah keniscayaan yang perlu direspon sebagai wujud pemantapan beragama Islam manakala gairah penguasaan umat dalam rangka pendalaman wawasan beragama, penghayatan serta upaya membangun kesadaran mengamalkan syari’at semakin mendekati standar ittiba’. Pola pengamalan syari’at dalam prikehidupan sehari-hari bila menerapkan asas ittiba’ amat berkepentingan pada figur muttaba’, yakni orang yang diikuti jejak perjalanan dan pemahaman keagamaannya. Untuk strata nabiyyullah Musa a.s. yang dikaderkan sebagai ulu al- `azmi tepat bila memilih figur muttaba’ Hidhir a.s. (QS. al-Kahfi : 66). Strata pribadi Nabi Muhammad Saw mengidolakan figur Ibrahim a.s. (QS. Ali Imran : 68). Ketika penganut Islam masih minoritas di Makkah, orang setingkat Sa’ad bin Abi Waqash mengikuti seniornya yakni Abu Bakar al-Shiddiq (QS. Luqman : 15). Umat generasi tabi’in tentu mengambil pola anutan kolektifitas keagamaan sahabat Nabi Saw yang digolongkan kelompok Muhajirin dan Anshar (QS. al-Tawbah : 100). Ketika merambah generasi penerus tiada pilihan lain kecuali figur yang merepresentasikan sabil al-mu’minin (QS. al-Nisa’ : 115).

selengkapnya

Studi Kritik Hadits Nabi SAW. : Metodologi Penelitian Hadits

Studi Kritik Hadits Nabi SAW. :Metodologi Penelitian HaditsMukadimah
Para pemerhati dan pemikir keislaman yang kritis, sudah cukup lama peduli pada sumber ajaran Islam, terutama al-hadits an-nabi saw.Begitu pula dengan penelitian terhadapnya, telah banyak juga dilakukan mereka, termasuk di dalamnya adalah para orientalis (baca: Islamolog Barat). Mengingat, Hadits Nabi SAW. adalah juga petunjuk bagi umat Islam setelah al-Qur’an, yang sekaligus merupakan penjelas utama al-Qur’an.

selengkapnya

STUDI HADIS : DARI SUNNAH YANG HIDUP KE BENTUK VERBAL

A. Pendahuluan

Sejak wafatnya Muhammad Rasulullah s.a.w., persoalan ilmiah yang dihadapi para sahabat adalah persoalan kodifikasi al-Qur’an dalam satu mushhaf. Persoalan kodifikasi inilah yang menjadi wacana pasca “kepergian” Nabi s.a.w. di samping berbagai persoalan yang ikut menyemarakkan konstelasi kehidupan umat Islam pada waktu itu. Pada generasi selanjutnya, yakni di masa tabiinn, kodifikasi al-Qur’an semuanya disandarkan atau dinisbatkan pada diri Rasulullah s.a.w., yaitu berupa kerkataan, perbuatan, dan taqrirnya, yang disebut hadis atau sunnah.

selengkapnya

LEBIH DEKAT DENGAN al-HADIS DAN al-SUNNAH

I. Pendahuluan           

Istilah Hadis dan Sunnah telah digunakan secara luas dalam studi keislaman untuk merujuk kepada teladan dan otoritas Nabi saw atau sumber kedua hukum Islam setelah al-Qur’an. Meskipun begitu, pengertian kedua istilah tersebut tidaklah serta merta sudah jelas dan dapat dipahami dengan mudah. Para ulama dari masing-masing disiplin ilmu menggunakan istilah tersebut didasarkan pada sudut pandang yang berbeda sehingga mengkonskuensikan munculnya rumusan pengertian keduanya secara berbeda pula.
Dalam makalah ini akan ditelusuri pengertian sunnah dan Hadis serta penggunaannya dalam masing-masing disiplin, perkembangan penggunaan kedua istilah tersebut serta perbedaan keduanya. Di samping itu, makalah ini juga akan meninjau kedudukan Sunnah Nabi saw dalam syariat Islam. Penelusuran ini tentu dimaksudkan untuk memperjelas kekaburan pengertian sunnah dan Hadis. 

selengkapnya

OTENTISITAS HADIS PERSPEKTIF ORIENTALIS:

Pendahuluan

Studi seputar relasi antara Islam dan orientalisme termasuk studi prestisius. Hampir setiap bidang Islamic studies berkaitan dengan orientalisme, baik itu tafsir, hadis, fikih, filsafat, sufisme maupun sejarah. Masing-masing bidang studi tidak luput dari sentuhan kajian para orientalis, bahkan mereka berhasil menghasilkan karya-karya bermutu yang tidak dapat dilakukan oleh sebagian umat Islam. Lebih dari itu, sebagian sarjana Muslim kadang menggunakan karya-karya mereka sebagai bahan referensi dalam penelitian mereka.
Sebagai bukti, dalam bidang hadis, mereka meracik sebuah kamus besar guna melacak keberadaan sebuah hadis berdasarkan teks utama dari hadis tersebut dalam enam buku koleksi hadis kanonik, Sunan al-Da>rimi>, Muwat}t}a’ Ma>lik, dan Musnad Ah}mad ibn H{anbal dengan judul Concordance Et Indices De La Tradition Musulmane(al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāz} al-H{adīth al-Nabawī) dalam tujuh jilid tebal. Kamus hadis ini adalah karya sekelompok orientalis yang dipublikasikan oleh A. J. Wensinck dan J. P. Mensing. Selain kamus ini, A. J. Wensinck meracik kamus hadis yang lebih kecil darinya yang berjudul Mifta>h Kunu>z al-Sunnah.

selengkapnya

STUDI REFERENSI HADIS STANDART (SUNAN ABU DAWUD 202 -275 H); Bagian kelima

Biografi Abu Dawud

Imam Abu Dawud ketika kecil bernama Sulaiman, bin Asyas bin Ishaq, bin Basyir, al-Azdiy al-Sijistani. Imran al-Azdiy seorang leluhur Abu Dawud  berperan aktif dalam kesatuan tentara pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib pada pertempuran Shiffin. Azdiy adalah sebuah suku besar di Yaman yang merupakan cikal bakal imigran ke Yatrib dan kelak menjadi inti kelompok Anshar di Madinah. Inisial al-Sijistani  dibelakang nama beliau menjadi sebab orang menduga bahwa Imam Abu Dawud berdarah keturunan al-Sijistan, wilayah bagian selatan Afganistan (Kabul). Bahkan ada pula yang mengira Sijistan sebuah daerah terkenal di negeri India bagian selatan. Ibnu Hilikan dan Ibnu al-Subkioptimis menunjuk wilayah Yaman.

selengkapnya

STUDI REFERENSI HADIS STANDART {Al-JAMI’ SUNAN AL-TURMUDZI (209 – 279)}; Bagian keenam

Biografi Imam Al-Turmudzi

Nama lengkap beliau Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa Ibnu Sawwah al-Sulami al-Turmudzi. Tempat kelahiran beliau pada wilayah utara sungai Jihua (Amudariya) di sebuah kota kecil terletak di sebelah utara  Iran dan dikenal dengan kota Turmudz atau Tirmidz, dengan dialek setempat terbaca Turmidzi. Lahir pada tahun 209 H (sebagian ulama menduga tahun 200 H) dan meninggal dunia pada malam Senin tanggal 13 Rajab 279 H dalam usia 70 tahun di kota yang sama. Kesamaan tempat lahir dan meninggal memberi pertanda bahwa sebagaian besar dedikasi keilmuan Imam al-Turmudzi di persembahkan untuk masyarakat Islam di kampung halamannya.

selengkapnya