LEARNING ORGANIZATION

Ada dua pendekatan desain organisasi yang paling mutakhir di abad ke-21. Kedua pendekatan itu adalah : organisasi tanpa batas(vitually organization) dan organisasi yang belajar(learning organization).Jack Welch, Chief Executive officer (CEO) General Electric (GE) adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep organisasi tanpa batas(vitually organization)Prakteknya menekankan pada peningkatan partisipasi anggota atau karyawan dalam proses pengambilan keputusan, dengan dibentuknya tim-tim lintas fungsional dan hirarki.

slengkapnya

PENDIDIKAN YANG NGU-WONG-KÉ

Howard Gardner, ahli pendidikan paling terkemuka dari Harvard University dalam buku mutakhirnya yang berjudul Truth, Beauty, and Goodness Reframed, Educating for the Virtues in the Twenty First Century seolah menyesali pemikiran-pemikiran pendidikannya sendiri yang terdahulu. Pemikiran terdahulu dia yang sangat revolusioner di dunia pendidikan adalah paradigma kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

selengkapnya

TREND GERAKAN MAHASISWA , DULU SAMPAI SEKARANG

Mahasiswa adalah elemen yang tak akan pernah terpisahkan dari perjalan peradaban sebuah bangsa. Sejarah di dunia ini, baik di Barat maupun di Timur, telah menjadi bukti idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya yang melekat pada sosok mahasiswa telah banyak banyak mewarnai peradaban negeri di berbagai belahan dunia.

selengkapnya

SEMUA HARUS KREATIF

Benarkah kreativitas tidak memiliki nilai tambah ?. Kita tahu masih ada anggapan bahwa kreativitas sebagai pemborosan dan “arena buang-buang waktu”. Kalau bukan pemborosan, ada yang masih melihat bahwa kreativitas atau inovasi adalah bagian orang-orang yang tidak serius dan berdisiplin, justru kadang dianggap sebagai “gangguan” buat orang tertentu yang tidak suka orang lain sukses. Paradigma inilah yang sering menyebabkan banyak orang tidak meyakini bahwa kreativitas perlu mendapat tempat terdepan dalam pencarian solusi terhadap permasalahan di tempat kerja.

selengkapnya

Mempersiapkan UIN MALIKI Malang Menuju World Class University (WCU)

Apa yang tersirat pada tema tulisan di atas sebenarnya bukan hanya euforia belaka dan bukan hanya latah karena perguruan tinggi lainnya juga sudah dan/atau sedang mempunya peringkat itu, tetapi lebih merupakan program prioritas yang menuntut segera digarap dengan sungguh-sungguh agar kampus kita tercinta (Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang) mempunyai kedudukan yang sama dengan perguruan tinggi besar lainnya sebagai real university.  Lebih dari itu, UIN MALIKI MALANG sebagai salah satu lembaga Islam mempunyai obsesi ingin menjadi lembaga yang mempunyai kedudukan pada posisi papan atas, menjadi pilihan yang pertama masyarakat. Cita-cita ini sebenarnya sudah muncul ketika diskusi (yang seringkali dilakukan secara informal) dalam penyusunan dokumen RENSTRA 10 TAHUN KE DEPAN STAIN MALANG (1998); yaitu setelah ada kebijakan pemerintah tentang alih status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang ke STAIN Malang. Peluang besar yang tidak kita sia-siakan, karena di dalamnya terkandung aspek otonomi dalam pengelolaan dan pengembangan setelah sekitar 4 (empat) dekade (1961-1997) bergantung pada kebijakan IAIN Sunan Apel Surabaya sebagai induk lembaga.

selengkapnya

IAEI: “FE UIN Malang, model ideal bagi FE PTAIN/s Se-Indonesia”

Meski Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, namun hingga saat ini penetrasi produk perbankan dan keuangan syariah masih  masuk dalam kategori rendah jika dibandingkan dengan produk keuangan konvensional. Hasil surveu BI menunjukan, 89 persen masyarakat Indonesia dapat menerima prinsip (ekonomi) syariah.  Namun, Indonesia belum mampu menempatkan diri sebagai pusat keuangan Islam global.

selengkapnya

Maliki Siapkan WCU

Persaingan antar perguruan tinggi secara internasional dalam era perdagangan bebas (globalisasi) menjadi sebuah keniscayaan. Dibutuhkan strategi tepat untuk meningkatkan kualitas mutu agar bisa sejajar dengan perguruan tinggi luar negeri. Penyertaan dalam peringkat World Class University (WCU) dapat digunakan sebagai standarisasi kesetaraan secara global. UIN Maliki Malang selama empat tahun kedepan menargetkan masuk dalam 150 besar WCU. Ini bukan isapan jempol. Berbagai tahapan rencana strategis (renstra) berhasil dijalankan secara fantastis.

selengkapnya

Peran Alumni Dibutuhkan Untuk Mewujudkan Visi Fakultas Ekonomi Uin Maliki Malang

Peran Alumni sangat dibutuhkan untuk mewujudkan visi dan misi sebuah perguruan tinggi terutama dalam membuka hubungan dengan masyarakat atau dunia usaha demi meningkatkan mutu lulusan berikutnya. Peran tersebut juga sangat strategis, karena alumni merupakan aset penting yang harus dirangkul dan dikembangkan sedini mungkin.
Satu hal yang perlu disadari dan menjadi sebuah keniscayaan, semua mahasiswa yang sukses menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi pada akhirnya akan menjadi alumni. Artinya, salah satu indikator keberhasilan proses pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan alumni dalam menjalankan peran mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun bidang pekerjaan yang mereka jalani secara profesional sesuai minat dan kemampuan. Ada beberapa peran yang dapat diaktualisasikan untuk mewujudkan visi dan misi FE UIN

selengkapnya

Hikmah dari tamu kita

Banyak hikmah yang dapat diambil dari kunjungan dua tokoh dunia, Dr. Ahmed Mohammad Ali Madani, Presiden Islamic Development Bank dan Prof. Dr. (HC) Dr. Ing. Bachruddin Jusuf Habibie, bapak teknologi Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang pada hari Selasa 10 Mei 2011 tempo hari. Hikmah tersebut mengandung berbagai tuntutan, peluang, dan tantangan bagi sivitas akademika UIN Maliki Malang dalam memegang amanah pengelolaan dan pengembangan kampus menuju “The Real Islamic University”. The Real Islamic University adalah ungkapan singkat yang pernah disampaikan oleh Prof. Drs. H. Malik Fajar, M.Sc an. Presiden RI yang ketika itu sebagai an intrem Menkokesra RI dalam sambutan Peresmian Universitas Islam Negeri (UIN) Malang tahun 2004.

selengkapnya

YANG DI DEPAN YANG VISIONER

Semua orang, apapun profesinya yang hidup secara normal di dunia ini pasti menginginkan hidupnya ada peningkatan, yang merasa bodoh ingin pinter, yang merasa miskin ingin kaya, yang lagi sakit ingin sembuh, yang lemah ingin menjadi kuat, dan seterusnya. Kenyataannya sering kali kita mengetahui dan atau kadang mengalaminya sendiri, bahwa tidak serta merta semua keinginan tersebut dapat diraih. Persoalannya adalah mungkin cita-cita tersebut tidak atau belum dibarengi dengan upaya yang sungguh-sungguh, sehingga yang terjadi adalah keputusasaan dan kadang menyalahkan situasi, kondisi dan tidak jarang justru orang lain. Persoalan lainnya adalah mungkin yang bersangkutan belum mengerti dan memahami secara benar tentang potensi yang miliki, kurang bisa memposisikan dirinya sendiri, sehingga tidak tahu dan terlalu risau apa sebenarnya yang harus dilakukan, apalagi upaya menyeleksi peluang yang ada depan mata, bisa dipastikan luput dari perhatiannya. Karenanya, tepat sekali apa yang disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo ketika memberi arahan kepada para penerima Surat Keputusan (SK) kenaikan pangkat bagi dosen, calon dosen, dan karyawannya yang berjumlah sekitar 150-an personel pada hari Rabu, 8 Juni 2011 pukul 13.00-16.00 wib di kampus tercinta. Tradisi bagus yang selalu dilakukan di kampus ini, yaitu Rektor memberikan SK secara langsung kepada penerima sekaligus memberikan pesan-pesan tentang konsekwensi penerimaan SK untuk peningkatan performent, baik performent personel dari aspek intelektual, emosional dan spiritual yang bersangkutan maupun performent kelembagaan ke arah pengembangan ke depan yang lebih baik dan menjanjikan bagi peningkatan kualitas, martabat, dan kesejahteraan. Disamping itu, Rektor secara telaten mengingatkan model pakaian yang dirasa kurang patut dan mengecek secara langsung kemampuan membaca al-Qur’an terutama bagi penerima SK Calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Calon Dosen (Cados) dengan disaksikan oleh para petinggi kampus dan keluarga mereka. Ada beberapa catatan yang saya dapat pada kesempatan ikut menyaksikan pertemuan tersebut dari arahan Rektor, yaitu antara lain; Pertama, kenaikan pangkat pada hakekatnya adalah penghargaan lembaga (UIN Maliki Malang) atas prestasi yang diperoleh oleh seorang Pegawai. Prestasi tersebut tidak hanya diukur dari kinerjanya tetapi yang paling penting adalah diukur dari aspek spiritualitas dan emosional yang bersangkutan; bagaimana solat jama’ahnya, bagaimana membaca al-Qur’anya, dan bagaimana hubungan antar kolega kerjanya. Parameter penilaian ini sebetulnya masih sangat sederhana dan perlu ditingkatkan. Ke depan harus segera dibuat instrumen sebagai parameter yang dapat dipakai sebagai dasar pemberian penghargaan dan kenaikan pangkat bagi setiap personil, dan lebih dari itu dapat dipakai sebagai bahan job analysis. Instrumen tersebut harus dikembangkan dari konsep 4 (empat) kekuatan yang harus dimiliki oleh setiap personil di kampus ini, yaitu kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Arahan di atas mengingatkan saya ketika terlibat diskusi dengan temen-temen di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) UIN Maliki Malang sekitar lima bulan (akhir Januari 2011) yang lalu tentang hal tersebut yang hasilnya juga sudah saya coba komunikasikan dengan Rektor. Argumentasi yang saya sampaikan bahwa sudah banyak sekali konsep dan ide besar yang lahir di kampus ini; tentang ulul albab, integrasi sains dan agama, pohon ilmu, dll. yang memerlukan pengembangan. Bentuk pengembangannya antara lain membuat instrumen sebagai parameter untuk mengetahui tingkat kualitas Sumber Daya Insani (SDI) yang memiliki predikat ulul albab, dst. Argumentasi lainnya adalah cita-cita UIN Maliki Malang untuk menjadi guru dalam pengembangan kampus Islam di Indonesia, memerlukan contoh yang lebih konkrit, karena seringkali kampus lain kesulitan mengikuti perkembangan kampus kita ini. Tidak kalah penting perlu segera dipastikan ada system pembinaan SDM yang sistemik, sehingga control pengembangannya bisa dilakukan secara jelas. Sistem tersebut bisa dimulai dari mapping potensi, kepribadian dan kompetensi seluruh personil, kemudian menentukan materi, pola, dan teknis pelaksanaannya. Kedua, penilaian tentang suasana ruang pertemuan dan justru ini yang menjadi perhatian Rektor, terutama ketika terlihat sebagian besar dari penerima SK yang berjumlah sekitar 150-an itu mengambil tempat duduk di belakang, padahal masih banyak sekali tempat duduk di depan yang kosong. “Wong mau duduk saja belum bisa kok naik pangkat” dan “di belakang itu tanda keterbelakangan, di belakang kok katanya maju” Pernyataan sederhana dari Rektor yang mengandung makna ”peringatan” dan ”sindiran tajam” ini perlu mendapatkan perhatian serius sebagai motivasi dan evaluasi diri dari semua pihak di kampus ini. Lebih dari itu, Rektor meminta kepada Pembantu Rektor bidang Administrasi Umum, Kepala Biro Administrasi Umum, dan sudah tentu kepada personil yang hadir dan yang tidak hadir, agar berikutnya tidak terjadi lagi, dan kalau suasananya masih seperti ini SK akan dibatalkan. Ini peringatan baik dan keras yang sudah barang tentu demi kebaikan bersama. Memang harapan kita : “Semua warga sivitas akademika kita harus berebut menjadi yang terdepan secara proporsinal dan professional. Mengapa ? karena Yang di depan adalah yang visioner. Yang visioner adalah yang maju, dan yang maju adalah yang tambah derajat dan tambah kesejahteraannya.” Sekian, Wallahu a’lam bishshawab. 9 Juni 2011.